Skip to main content

Back to Work

Setelah beberapa waktu lalu tidak ngantor, beberapa bulan yang lalu seorang teman lama menghubungi saya, yang kemudian menawarkan untuk kembali terjun di dunia kerja. Singkat cerita, akhirnya saya turut bergabung dan kembali ngantor.

Bismillah..

Perdebatan panjang, baik pribadi maupun dengan keluarga, ketika memutuskan untuk kembali bekerja (kantoran). Pasalnya, rejeki insya Allah ada saja, tapi ternyata ada hal-hal yang kemudian cukup menusuk/menampar diri ini:

1. Ketika ditanya, ilmu/pengalaman yang sedemikan (cukup) banyak, kalau tidak diamalkan.... (bagaimana pertanggung jawabannya)

2. Ketika sang anak ditanyakan oleh teman/guru tentang pekerjaan orang tuanya. Jangankan itu, bagaimana perasaan sang anak mengetahui pekerjaan orang tuannya?

Browsing di internet mengenai dalil, pastilah (Alhamdulillah) ketemu banyak, dan yang sering muncul ialah:

Firman Allah SWT dalam surah At-Taubah ayat 105 berbunyi:

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."

Kemudian hadist ini juga: Rasulullah ﷺ bersabda:

حَدَّثَنَا مُوسَى حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

Telah menceritakan kepada kami [Musa] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [bapaknya] dari [Az Zubair bin Al 'Awam radliallahu 'anhu] dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya".

[Hadits Bukhari Nomor 1378]

Begitulah.... maka dengan izin Allah saya kembali bekerja (kantoran).


Oya, mengenai menganggur, ketemu di Romaysho:

Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi, no. 2417, dari Abi Barzah Al-Aslami. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

 

Soal rejeki sudah diatur:

Allah memang yang memberi rezeki sebagaimana firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6). Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan, “Namun hal ini bukan berarti seseorang boleh meninggalkan usaha dan bersandar pada apa yang diperoleh makhluk lainnya. Meninggalkan usaha sangat bertentangan dengan tawakkal itu sendiri.” (Fath Al-Bari, 11: 305)

 

Yang pertama kali disinggung mengenai pekerjaan terbaik adalah pekerjaan dari hasil kerja tangan sendiri. Dalam hadits lain disebutkan,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu juga makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari, no. 2072, dari Al-Miqdad). Bahkan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud ‘alaihis salam.

Contoh pekerjaan dengan tangan adalah bercocok tanam, kerajinan, mengolah kayu, pandai besi, dan menulis. Lihat Minhah Al-‘Allam, 6:9.

 

Popular posts from this blog

Jangan debat kusir

Kebiasaan manusia setelah belajar itu show-off ilmu. Lebih parahnya adu ilmu. Kalau di dunia kerja umumnya memang karyawan dilatih untuk memiliki softskill untuk berdebat, dibekali pengetahuan dan pemahaman, serta kelantangan. Bagaimana dalam Islam?

Makan dengan Tangan Kanan: Antara Budaya dan Iman

Photo by Craig Adderley from Pexels   Sempat diajarkan table manner ? Hidangan disajikan satu set dari appetizer, main course, hingga dessert ? Lalu bagaimana kita sebagai muslim kantoran menyantapnya? Ok hidangan halal, tapi set perangkat makan dengan garpu dan pisau? Tangan kanan atau kiri yang digunakan? Tulisan ini tidak untuk mendeskriditkan coaching yang ada (misal John Robert Power, dll), yg saya juga pernah mengikuti training serupa baik gaya eropa maupun asia.

Financial Freedom

Image by WorldSpectrum from Pixabay Sesuai tulisan saya sebelumnya, catatan kali ini seputar bagaimana saya tetap bisa menafkahi keluarga padahal tidak kerja di kantor.  Setelah beberapa bulan ini saya berkecimpung di bidang investasi dan trading, sepertinya penting bagi saya untuk share ini untuk inspirasi muslimkantoran. Yaitu mengenai perjalanan saya yang menurut saya ada bagian esensial dan ada pula yang bisa jadi cenderung buang-buang waktu. Berikut bila dikupas 1. Lulus kuliah S1  Ini termasuk wajib untuk kebanyakan orang, yang kalau ada kesempatan memang mau tidak mau harus dapat ijasah S1. Hal ini karena saya cukup paham mengenai bidang personalia/SDM, karena kolega saya di kantor manapun biasanya orang penting di divisi SDM. Ceklist di perusahaan terutama multinational memang minimal ijasah S1 kalau mau karir bagus. Ini membantu para manajemen untuk mempertanggungjawabkan pada Pemangku kepentingan di setiap laporan. Kemudian prioritasnya untuk freshgraduate itu pada ...