Skip to main content

Mengejar Akhlaq, Umat yang sedikit

Image by John Hain from Pixabay

Salam,

Ini cerita flashback saya ketika di bangku SD. Kebetulan saya dimasukkan ke sekolah negeri, yang satu kelas isinya banyak sekali murid, sekalipun sudah dibagi kelas pagi dan siang. Pelajaran agama yang diajarkan di sekolah itu ialah agama Islam. Meskipun saya tidak terlalu pandai menghafal, tetapi saya cukup cerdik mempelajari situasi supaya mendapat nilai bagus di mata pelajaran agama tersebut, tentunya bukan dengan mencontek ataupun cara yang tidak mulia lainnya. Sebaliknya, ternyata trik yang saya lakukan itu merupakan pelajaran yang berharga seterusnya bagi kehidupan saya. Akhlaq.


Bagi yang pernah bersekolah di SD negeri di era 90-an, tentunya tidak perlu heran suasanya sangat ribut sepanjang kelas. Tak jarang meskipun ada guru di depan kelas tengah mengajar, murid-murid yang demikian banyak, malah asyik sendiri, ada yang ngobrol, ada yang lari-lari kesana kemari, ada yang bercanda-canda dan sebagainya. Mudah-mudahan jaman sekarang sudah jauh berubah kondisi SD negeri di tanah air.

Pelajaran-pelajaran yang memerlukan kemampuan menghafal ialah sesuatu yang berat bagi saya, lain halnya dengan pelajaran-pelajaran menghitung ataupun kesenian. Pelajaran agama salah satunya, yang di tingkatan tersebut masih harus banyak menghafal. Tapi Alhamdulillah, setelah saya memperhatikan saya melihat bahwa guru agama saya pada saat itu sepertinya menjunjung sebuah nilai sebagai hal yang paling istimewa, meskipun tidak sering tapi suatu ketika terlontar dari lisannya, yaitu Akhlaq. Apa maksudnya akhlaq, pikir saya. Dan entah kenapa, dengan kecerdasan yang masih terbatas saat itu yang ada dibenak saya adalah bersegera duduk rapih, tangan dilipat di atas meja, diam tidak ngobrol, dan mata memperhatikan guru yang sedang mengajar meskipun hanya sekedar lewat di kepala, masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Ajaib, di rapot nilai 8. Oya, nilai 8 itu bagus, jarang ada nilai 9 di SD tersebut pada masa itu.

Tidak hanya satu cawu (alias caturwulan, tahun ajaran dibagi menjadi 3 cawu) itu, karena berulang di cawu berikutnya juga... Maka teman sebangku saya pun ikutan, diam tidak ngobrol, perhatikan guru agama di depan. Ajaib, dia pun terheran-heran bisa dapat angka 8 pelajaran agama di rapot (bagus).

Suatu ketika, ada kalanya saya terbawa suasana, ngobrol pada saat pelajaran agama, hanya sekali, hingga akhirnya pak guru tadi menyebut kata akhlaq, dan spontan mengena ke hati saya. Terlambat, feeling saya tidak enak, dan benar saja pada cawu tersebut nilai pelajaran agama saya turun menjadi 7. Sejak itu saya belajar, mengejar akhlaq tidaklah mudah, dari sekian banyak murid, hanya saya dan teman sebangku saya itu yang berusaha untuk menjawab tantangan akhlaq. Umat yang sedikit.

Bukan soal diam, tapi sebenarnya menghargai guru yang sedang mengajar, itulah nilainya.

Di dalam kehidupan pun seperti itu, bisa jadi bukan soal siapa yang paling hebat, paling kuat, paling pintar tinggi ilmunya, paling banyak uangnya, paling berkuasa luas-luasan wilayah. Bahkan bisa jadi bukan soal banyak-banyakan amal, rajin ibadah. Akhlaq, sayang pada sesama manusia, pada lingkungannya, pada negerinya, pada ciptaan Allah sepenuhnya. Mengikuti akhlaq nabi, itulah bentuk tertinggi kecintaan pada nabi. Mewujudkan Islam rahmatan lil alamin, itulah kecintaan kepada Allah yang sesungguhnya.

Saya bilang: Do not ever dare, mengaku sebagai follower of Nabi Muhammad s.a.w, kalau tidak menjaga akhlaqnya.

Cobalah, apabila belum, santun pada orang tua, lemah lembutlah, sebagaimana mereka lembut sekali kepada kita sewaktu kita kecil. Sesama manusia, jangan berebutlah (fastabiqul khairat: berlomba-lomba itu pada kebaikan, bukan cepet-cepetan sampai, banyak-banyakan uang, tinggi-tinggian pamor, apalagi pamer), bagaimanapun berusahalah bersikap sopan dan ramah, maka Islam itu indah bukan cuma slogan. Kepada lingkungan, rawatlah, tidak perlu jijik memungut sampah dan membersihkan pada tempatnya.

Jangan sedih, meskipun sebagai umat yang sedikit. Karena maksiat itu gampang, ibarat mendaki gunung itu beratnya minta ampun, sedangkan meluncur ke bawah itu gampang sekali. Mungkin itu kenapa sering digambarkan surga itu di atas, di langit, mencapainya perlu upaya. Sedangkan digambarkan neraka itu di dasar bumi, namun bercampur lahar panas, mencapainya cukup kejeblos.

Anyway, bukankah yang berbeda di mata Allah tidak lain ketakwaannya?

Wallahu a'lam

Popular posts from this blog

Agile, Buru-buru, Labil?

Bismillah... Semoga Allah segera meluruskan bila ada yang salah dalam pemikiran saya ini yang hendak saya tuliskan ini. Image by Free-Photos from Pixabay Cerita kali ini tentang salah satu personality traits yang cukup populer di era teknologi saat ini, era digital, era milenial. Tidak lain ialah soal kelincahan, atau agility, yang bagi kalangan gamers

Makan dengan Tangan Kanan: Antara Budaya dan Iman

Photo by Craig Adderley from Pexels   Sempat diajarkan table manner ? Hidangan disajikan satu set dari appetizer, main course, hingga dessert ? Lalu bagaimana kita sebagai muslim kantoran menyantapnya? Ok hidangan halal, tapi set perangkat makan dengan garpu dan pisau? Tangan kanan atau kiri yang digunakan? Tulisan ini tidak untuk mendeskriditkan coaching yang ada (misal John Robert Power, dll), yg saya juga pernah mengikuti training serupa baik gaya eropa maupun asia.

Me versus the World

Image by mbll from Pixabay Pernahkah ketika pertama kali masuk kantor, atau dipindahkan ke sebuah tim atau area, tantangan yang dihadapi adalah lingkungan yang kurang berkenan, atau bahkan kacau. Maksudnya, di dalam lingkungan tersebut sepertinya hal-hal yang berbau atau bahkan kegiatan maksiat itu sendiri sudah menjadi sesuatu hak yang biasa. Sebutlah aktivitas seperti hengki pengki, minum-minum, hiburan malam, main cewek, belum lagi yang lebih parah terjebak dalam ekosistem fraud yang terorganisir, pernah? Tapi pada kenyataannya mereka itu banyak (majority), sedangkan kita anak baru, sendirian, bisa apa?